Jual Nasi Tumpeng Bogor

Jual Nasi Tumpeng Bogor

Apakah benar anda sedang mencari info tentang “Jual Nasi Tumpeng Bogor”? Jika iya maka yakinlah anda berada ditempat yang sangat tepat, karena kami akan membantu anda dalam penyediaan nasi tumpeng yang berkualitas untuk wilayah Bogor dan sekitar.

Nasi Tumpeng adalah nasi adat khas nusantara yang masih terjaga sampai sekarang dan masih banyak peminatnya sampai sekarang. Nasi Tumpeng biasanya dihadirkan ketika acara-acara spesial, contoh: Ulang Tahun, Syukuran, 17 Agustus, dan lain-lain.

Bagi anda masyarakat Bogor dan sekitar yang sedang membutuhkan Nasi Tumpeng yang enak dan berkualitas, silahkan bisa langsung menghubungi kami di > Hubungi Kami <

Jual nasi tumpeng bogor

jual nasi tumpeng bogor

JUal Nasi Tumpeng Bogor Kualitas Terbaik

Sejarah dan Tradisi Nasi Tumpeng 

Nasi kuning berbentuk segitiga tinggi menjulang, berdiri kokoh di atas nampan rotan, dan dikelilingi oleh bermacam lauk-pauk. Tentunya banyak dari kamu yang tidak asing lagi dengan menu ini. Ya, nasi tumpeng adalah menu tradisional yang biasa kita temui dalam acara-acara tertentu, khususnya pada saat ulang tahun. Namun, tahukah kamu, asal mula budaya tersebut, dan makna di baliknya?

Masyarakat di pulau Jawa, Bali dan Madura memiliki kebiasaan membuat tumpeng untuk kenduri atau merayakan suatu peristiwa penting. Meskipun demikian kini hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal tumpeng. Falsafah tumpeng berkait erat dengan kondisi geografis Indonesia, terutama pulau Jawa, yang dipenuhi jajaran gunung berapi. Tumpeng berasal dari tradisi purba masyarakat Indonesia yang memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para hyang, atau arwah leluhur (nenek moyang). Setelah masyarakat Jawa menganut dan dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, nasi yang dicetak berbentuk kerucut dimaksudkan untuk meniru bentuk gunung suci Mahameru, tempat bersemayam dewa-dewi.

Meskipun tradisi tumpeng telah ada jauh sebelum masuknya Islam ke pulau Jawa, tradisi tumpeng pada perkembangannya diadopsi dan dikaitkan dengan filosofi Islam Jawa, dan dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Dalam tradisi kenduri Slametan pada masyarakat Islam tradisional Jawa, tumpeng disajikan dengan sebelumnya digelar pengajian Al Quran. Menurut tradisi Islam Jawa, “Tumpeng” merupakan akronim dalam bahasa Jawa : yen metu kudu sing mempeng (bila keluar harus dengan sungguh-sungguh). Lengkapnya, ada satu unit makanan lagi namanya “Buceng”, dibuat dari ketan; akronim dari: yen mlebu kudu sing kenceng (bila masuk harus dengan sungguh-sungguh) Sedangkan lauk-pauknya tumpeng, berjumlah 7 macam, angka 7 bahasa Jawa pitu, maksudnya Pitulungan (pertolongan). Tiga kalimat akronim itu, berasal dari sebuah doa dalam surah al Isra’ ayat 80: “Ya Tuhan, masukanlah aku dengan sebenar-benarnya masuk dan keluarkanlah aku dengan sebenar-benarnya keluar serta jadikanlah dari-Mu kekuasaan bagiku yang memberikan pertolongan”. Menurut beberapa ahli tafsir, doa ini dibaca Nabi Muhammad SAW waktu akanhijrah keluar dari kota Mekah menuju kota Madinah. Maka bila seseorang berhajatan dengan menyajikan Tumpeng, maksudnya adalah memohon pertolongan kepada Yang Maha Pencipta agar kita dapat memperoleh kebaikan dan terhindar dari keburukan, serta memperoleh kemuliaan yang memberikan pertolongan. Dan itu semua akan kita dapatkan bila kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh.

Makna potong tumpeng

Selain dari wujud dan tampilan dari nasi tumpeng itu sendiri, nilai filosofis yang mendalam juga dapat kita lihat dari ritual atau upacara yang dilakukan. Saat menghadiri sesi tumpengan, pernahkah kamu melihat ritual pemotongan ujung tumpeng yang diserahkan kepada orang yang dituakan atau dihormati? Ya, dalam ritual tersebut ternyata juga mengandung makna, yaitu kita harus menghormati orang yang lebih tua, atau yang dihormati, sebagai ungkapan rasa terima kasih atas segala bimbingan dan petuah yang diberikan.

Selain itu, rasa kebersamaan dan kekeluargaan juga menjadi nilai penting yang terkandung dalam tradisi tumpengan. Hal tersebut bisa kamu lihat dari nasi dan lauk-pauk yang disediakan di dalam satu wadah dan diambil bersama-sama. Dengan begitu, membuat kita menjadi lebih akrab satu dengan yang lain, sehingga rasa kebersamaan menjadi semakin terjalin.

Pesan Nasi Tumpeng Depok

NAsi Tumpeng Bogor, jual nasi tumpeng bogor, jual nasi tumpeng , jual nasi tumpeng bogor

Makna Simbolik

 

Nasi putih/Nasi Kuning dan lauk-pauk dalam tumpeng juga mempunyai arti simbolik:

Nasi putih / Nasi Kuning
Berbentuk gunungan atau kerucut yang melambangkan tangan merapat menyembah kepada Tuhan. Juga, nasi putih melambangkan segala sesuatu yang kita makan, menjadi darah dan daging haruslah dipilih dari sumber yang bersih atau halal. Bentuk gunungan ini juga bisa diartikan sebagai harapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin “naik” dan “tinggi”. Sedangkan Nasi Kuning melambangkan suasana keceriaan dan kegembiraan selalu dalam menikmati berkat dan karunia apapun

Ayam: ayam jago (jantan)

Dimasak utuh dengan bumbu kuning/kunir dan diberi areh (kaldu santan yang kental), merupakan simbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa). Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk yang dilambangkan oleh
ayam jago, antara lain: sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela dan merasa tahu/menang/benar sendiri (berkokok), tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri.

Ikan Lele
Dahulu lauk ikan yang digunakan adalah ikan lele bukan bandeng atau gurami atau lainnya. Ikan lele tahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai. Hal tersebut merupakan simbol ketabahan, keuletan dalam hidup dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling bawah sekalipun.

Ikan Teri / Gereh Pethek
Ikan teri/gereh pethek dapat digoreng dengan tepung atau tanpa tepung. Ikan Teri dan Ikan Pethek hidup di laut dan selalu bergerombol yang menyimbolkan kebersamaan dan kerukunan.

Telur
Telur direbus pindang, bukan didadar atau mata sapi, dan disajikan utuh dengan kulitnya, jadi tidak dipotong, sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu.

Hal tersebut melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan. Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat (fitrah) yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.

Sayuran dan Urab-uraban
Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap. Sayuran sayuran tersebut juga mengandung simbol-simbol antara lain:
Kangkung berarti jinangkung yang berarti melindung, tercapai. Bayam (bayem) berarti ayem tentrem, Taoge/cambah yang berarti tumbuh, Kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan/inovatif, Brambang (bawang merah) yang melambangkan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya, Cabe merah diujung tumpeng merupakan symbol dilah/api yang meberikan penerangan/tauladan yang bermanfaat bagi orang lain. Kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya. Bumbu urap berarti urip/hidup atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga.

Tahu dan tempe kering
Melambangkan kesederhanaan dan merakyat

Alas dari daun pisang
Menyiratkan wujud kesederhanaan, kebersahajaan dan kembali mensyukuri nikmat alam semesta.

Masakan Pendamping
Menyimbolkan sikap kedewasaan dalam menerima dan menyatukan bermacam perbedaan yang dihadapi.

Leave a Comment